Minggu, 22 Januari 2017

Pensiunan Tak Perlu Gentar dengan Tiga Tantangan Ini

Pensiunan acap mengalami tantangan soal menurunnya kondisi kesehatan, cemas karena tak lagi punya banyak uang, serta post power syndrome. Kenyataan tersebut antara lain ditulis Adi Waluyo dan Sukatna Panca pada laman bisnisukm.com.

Ketiga tantangan di atas bisa terjadi sebagian dan beda waktu, tetapi—celakanya—dapat pula secara bersamaan. Meski demikian, bukan berarti tak ada jalan keluar.

Pengalaman Agus Suprihatin misalnya. Ia tak pernah menyangka bahwa kesukaannya menyantap menu pecel lele berbuah manis. Bahkan, hal itu bisa membawa pria yang hampir lima tahun menjadi pensiunan ini melewati tiga tantangan tersebut.

Bagaimana bisa?

Sejak masih jadi pegawai di kementerian yang mengurusi hal ihwal pendidikan, Agus memang keranjingan makanan yang acap diklaim sebagai menu khas Lamongan, Jawa Timur.

"Padahal, saya ini asli Solo," katanya pada pertengahan bulan silam di Bekasi Timur.


Pecel lele itu sederhana saja cara mengolahnya. Usai berlumur bumbu, lele digoreng hingga garing. Sambal pun disiapkan.

Lazimnya, sambal pecel lele berisi tomat yang ikut digoreng bersama lele. Akan tetapi, kalau tomat tak ada, terasi pun oke untuk jadi pelezat sambal.

"Makan pecel lele dengan nasi hangat. Itu yang saya suka," tutur kakek dua cucu itu semringah.

Namun demikian, Agus yang sering dalam gurauan tetangganya disapa "Pak Prihatin" itu justru menemukan ide beternak lele pada 2011 lewat media massa. Di situ Agus menyimak kisah sukses Anief Hamzah (62) membudidayakan lele jenis sangkuriang. 

Anief, yang juga berstatus purnakarya dari sebuah kantor pemerintah, saat ini tinggal memetik hasil dari perjuangannya mengelola uang pensiun sebagai modal usaha beternak lele.

Akan tetapi, meski punya wawasan baru dari Anief, Agus tak serta-merta memulai usaha beternak lele pasca-pensiun. Terbiasa bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) golongan 3A membuat Agus gamang saat tak lagi jadi abdi negara.

Selain terjangkit rasa cemas andai kesehatan menurun, Agus juga was-was duit yang diterimanya di masa pensiun bakal cepat raib oleh kebutuhan yang meninggi.

"Kadang saya juga merasa enggak ada lagi orang yang disuruh-suruh seperti waktu di kantor," katanya.



Boleh jadi, kemudian, Agus tetap menyimpan tekadnya untuk bisa tetap bersemangat menjalani hidup. Itu sama artinya bahwa dirinya tak hendak tunduk oleh ketiga tantangan itu.

"Kesukaan saya pada pecel lele yang bikin saya mampu merencanakan lebih untuk uang pensiun yang saya terima," imbuh Agus.

Menikahi "ibu"

Sedikit catatan datang pula dari laman kelolaan Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat, soal lele sangkuriang. Sejatinya, pengembangan lele sangkuriang pada sekitar 2000-an berangkat dari kenyataan bahwa lele varietas dumbo, jenis yang dikembangkan sebelumnya, punya kelemahan.

"Lele dumbo itu cuma menang di ukuran besarnya. Tapi, rasanya enggak begitu enak," kata Agus.

Jadilah, singkat kata, BBPBAT melakukan kawin silang balik antara indukan betina lele dumbo generasi kedua atau biasa disebut F2 dari lele dumbo yang didatangkan pertama kali pada 1985 dengan indukan jantan lele dumbo F6. Dalam hal ini, indukan jantan F6 usia generasinya sudah barang tentu lebih junior ketimbang F2.

Alhasil, lantaran upaya ilmiah itu mirip-mirip dengan legenda Sangkuriang di Jawa Barat yang bertutur tentang seorang pemuda yang menikahi ibunya, jadilah nama varietas hasil kawin silang balik itu diberi nama lele sangkuriang.

Sembari meneruskan kesukaannya menyantap pecel lele, terbetik di benak Agus untuk menjadi pemasok lele sangkuriang. Ide itu juga datang tatkala Agus iseng-iseng menghitung jumlah warung kaki lima pecel lele di kompleks perumahan tempatnya tinggal.

Ada sekitar 15 warung kaki lima di kawasan seluas sepuluh hektar itu. "Kebanyakan warung-warung itu laris manis dagangannya," ujar Agus.

Agus kemudian membuat rancangan kecil-kecilan. Taruhlah setiap warung menghabiskan rata-rata 10 kilogram lele sangkuriang seminggu. Artinya, ada kebutuhan sekitar 150 kilogram yang mesti dipasok.

"Kalau harga per kilogramnya dari saya sekitar Rp 20.000, wah banyak juga hasilnya," kata Agus berandai-andai membayangkan betapa ikan yang menggeliat-geliat itu bisa membuat pundi-pundinya tetap terisi.

Tak hanya berhenti sampai pada hitung-hitungan, Agus juga mencoba memetakan lokasi kolam budi daya lele. Kebetulan, di belakang rumahnya masih ada sisa lahan seukuran tiga meter kali dua meter. "Saya manfaatkan saja dulu lahan itu," lanjut Agus lagi.

Memanfaatkan dunia maya, Agus juga mulai mencari tahu tempat penjualan dan harga bibit lele. Temuan Agus menunjukkan, rata-rata harga bibit ukuran 1 inci adalah Rp 100.

"Kalau beli 10.000 bibit masih cukuplah duit saya," katanya terkekeh.

Dari informasi di dunia maya, Agus juga mendapat informasi bahwa asal memenuhi seluruh persyaratan pemeliharaan—mulai dari pakan, kualitas air, pencegahan penyakit, dan sebagainya—panen lele sangkuriang bisa dilakukan sekitar dua hingga empat bulan sekali.

"Dari situlah, saya mencoba peruntungan untuk membuat budi daya lele sangkuriang," katanya.

Memang, belum genap satu setengah tahun Agus Suprihatin mengelola usaha barunya itu. Hasilnya pun belumlah seberapa.

"Kalau hanya buat dapur ngebul sih ada," tuturnya.

Sembari melayangkan pandangan ke atas, Agus menunjukkan raut wajah penuh senyuman bak orang yang tengah riang berdendang.

"Dari sangkuriang saya belajar bahwa di masa pensiun, saya tetap punya semangat mencari penghasilan," katanya.

Sejatinya, merujuk pengalaman Agus, orang perlu menyadari bahwa mengelola keuangan pada masa pensiun adalah hal penting agar dana yang diperoleh betul-betul bisa dimanfaatkan bagi kelangsungan hidup maupun kelangsungan usaha yang dirintis.

Intinya, rencanakan lebih pengelolaan uang Anda untuk menyambut masa “purna” tersebut. Perencanaan keuangan untuk masa pensiun juga bisa dimulai jauh-jauh hari sejak aktif bekerja sebagai karyawan atau pegawai.

Banyak cara bisa dilakukan untuk itu, termasuk melalui layanan asuransi. Lewat fasilitas AXA Mandiri dan AXA, misalnya, membuat rencana finansial untuk masa depan dapat dengan mudah dilakukan.

Nah, hasilnya dapat digunakan untuk membuka bisnis seperti Agus atau memastikan pembiayaan jenjang pendidikan anak dapat terpenuhi tanpa khawatir risiko pada masa depan.

Siap membuat rencana lebih keuangan untuk masa depan, termasuk menyongsong tiga tantangan masa pensiun? (http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/01/18/202924126/pensiunan.tak.perlu.gentar.dengan.tiga.tantangan.ini)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar