Selasa, 10 November 2015

Gusti Nurul Si 'Kembang Mangkunegaran' Itu Berpulang


Gusti Nurul Si Kembang Mangkunegaran Itu Berpulang

Gusti Nurul dan keluarga (Foto repro: Muchus Budi Rahayu)
Istana Mangkunegaran di Solo berduka. Sesepuh istana, Gusti Raden Ayu (GRAy) Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani wafat dalam usia 94 tahun. Gusti Nurul, demikian almarhumah akrab disapa, bukan hanya milik istana. Di masa mudanya namanya tersohor karena kecantikan, kecerdasan, dan keteguhannya memegang sikap. Dia mendapat julukan 'De Bloem van Mangkunegaran' atau kembang dari Mangkunegaran.

Gusti Nurul lahir di Istana Mangkenegaran pada 17 September 1921, buah pernikahan Sri Paduka Mangkunegara VII dengan Permaisuri, Gusti Ratu Timur. Di masa remaja hingga menjadi gadis, dia dikenal karena kecantikannya yang mampu memikat para pria, aktivitas sosial, bakat menari, kemampuan sastra, hingga prinsip hidupnya yang membuat banyak orang mengacungkan jempol.

Pada tahun 1937, Gusti Nurul memenuhi undangan Kerajaan Belanda untuk menari di istana kerajaan dalam rangka pernikahan Putri Juliana. Sang Putri dari Solo ino menari sendirian. Karena tidak ada gemelan pengiring di Belanda dan keterbatasan teknologi saat itu, iringan alunan gamelan dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan secara langsung ke Belanda melalui Solosche Radio Vereeniging, radio yang dirintis Sang Putri.


Gusti Nurul semasa muda. (Foto Repro: Muchus Budi R)


Solosche Radio Vereeniging, stasiun radio pertama di Indonesia. Di kemudian hari radio ini dikembangkan dan menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia (RRI).

Sang putri juga dikenal sebagai aktivis sosial di masa mudanya. Dalam sejumlah catatan sejarah, Gusti Nurul juga memberikan sumbangsih pemikiran yang sangat penting di masa pergolakan fisik pasca kemerdekaan, terutama di Solo dan sekitarnya. Karenanya tak heran jika Ratu Ratu Wilhelmina dari Belanda memberinya sebutan 'De Bloem van Mangkunegaran' karena terkesima dengan kecantikan dan kecerdasannya.

Selain itu dia juga terkenal sebagai seorang putri yang mahir bermain tenis dan mahir mengendarai kuda. Dalam cerita pada masanya, jika Sang Putri berlatih mengendarai kuda di lapangan depan istana, ratusan pemuda di Solo rela berdesakan menonton agar bisa melihat langsung paras Gusti Nurul.

Meskipun dibesarkan di dalam istana kerajaan lekat dengan pandangan tradisional, Gusti Nurul lebih memilih hidup dengan pemikiran yang melampaui jamannya. Dia menentang keras praktik poligami. Dia dengan tegas menolak lamaran Bung Karno, Sutan Syahrir, Sultan Hamengku Buwono IX, maupun Pangeran Djati Kusumo (KSAD pertama, Putra Susuhunan Paku Buwono X).

Sikap hidupnya yang tegas menolak poligami itu tercurah dalam salah satu puisi karyanya:
Kupu tanpa sayap
Tak ada di dunia ini
Mawar tanpa duri
arang ada atau boleh dikata tidak ada

Persahabatan tanpa cacat
Juga jarang terjadi
Tetapi cinta tanpa kepercayaan
Adalah suatu bualan terbesar di dunia ini

Selanjutnya dia justru memilih menikah dengan Soerjosojarso, seorang perwira menengah tentara yang justru sejak awal tidak memiliki karir yang moncer, namun dia merasa menemukan kesetiaan cinta pada diri sang perwira. Setelah menikah hingga wafatnya dia memilih menetap di Bandung, menjauhi hingar-bingar dan kemewahan kehdupan di dalam istana.

Sang legenda itu tutup usia hari ini, Selasa (10/11/2015) pukul 08.20 WIB di St Cartolus Bandung. Dia menggenaplam usia hingga 94 tahun dengan meninggalkan 7 orang anak, 14 cucu dan 1 cicit.

Pangageng Mandrapura Istana Mangkunegaran, Supriyanto Waluya, mengatakan jenazah Gusti Nurul akan dibawa ke Solo dari Bandung dengan penerbangan paling pagi pada Rabu besok. Selanjutnya jenazah akan disemayamkan di Pendapa Ageng Istana Mangkunegaran, kemudian akan dimakamkan di Astana Giri Layu, Matesih Karanganyar, makam keluarga besar Mangkunegaran. Pelepasan jenazah akan dipimpin langsung oleh Sri Mangkunegoro IX.

Dalam sejarah Dinasti Mataram, muncul sosok perempuan yang mampu mewarnai sejarah sebagai legenda karena kecantikan dan kecerdasaannya. Di antaranya Dyah Retno Dumilah, Putri Sedah Mirah, Roro Hoyi, Ratu Mas Balitar, Ratu Beruk, dan sepertinya Gusti Nurul adalah sosok melegenda dari Dinasti Mataram. Selamat jalan bunga terakhir...


(dtc)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar