Rabu, 09 Juli 2014

Hidup Sehat dan Bahagia di Usia Tua


Penduduk yang dikategorikan sebagai lanjut usia atau adiyuswa adalah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Tak sedikit yang berpandangan bahwa adiyuswa adalah kelompok masyarakat yang tidak lagi produktif. Hal tersebut diikuti dengan rentannya adiyuswa mengidap berbagai penyakit yang kemudian menjadikan adiyuswa sebagai beban bagi keluarga. Meningkatnya jumlah adiyuswa di sejumlah negara, termasuk di Indonesia, menuntut peran serta masyarakat dan pemerintah untuk mendorong adiyuswa tetap aktif, sehat, produktif, dan menjadi aset ketahanan nasional.

Melihat pentingnya hal tersebut, Centre for Ageing Studies Universitas Indonesia (CAS UI) bersama Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran UI menyelenggarakan seminar bertajuk “Solusi Hidup Sehat, Bahagia, dan Berguna di Usia Tua: Menuju Adiyuswa Sehat, Aktif, dan Produktif sebagai Aset Ketahanan Nasional dengan Pendekatan Siklus Hidup”. Seminar tersebut berlangsung di Kementerian Kesehatan RI pada 3—4 Mei 2014.
Hadir menyampaikan sambutan dalam acara tersebut, Pejabat Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met. Dalam sambutannya, ia menyebutkan, kenaikan angka harapan hidup di Indonesia merupakan hal yang baik, yang perlu diikuti dengan upaya menyejahterakan adiyuswa.
Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A., M.P.H. menjadipembicara utama dalam seminar tersebut. Dalam pemaparannya, Nafsiah berpendapat bahwa adiyuswa adalah usia yang indah. Oleh karena itu, adiyuswa perlu menjaga kesehatannya agar bisa tetap aktif.
Kesehatan adiyuswa juga perlu dibangun dengan olahraga rutin. Untuk mendukung kesehatan adiyuswa, pemerintah menyediakan layanan posyandu lansia. Saat ini telah tersedia 69 ribu posyandu lansia di seluruh Indonesia. Lebih lanjut, ia berharap agar adiyuswa di Indonesia sehat, aktif, mandiri, dan produktif. “Saya sangat mengharapkan, jangan ada adiyuswa yang sakit dan menjadi miskin karena kesehatan atau membebani anak cucu,” ungkap wanita yang diangkat menjadi menteri saat usianya 71 tahun ini.
Adiyuswa memiliki peran sentral dalam mengawal keberhasilan pembangunan negara. Demikian menurut, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, DEA. Budi menuturkan, ketahanan nasional perlu selalu ditingkatkan dengan melibatkan seluruh komponen bangsa, baik yang muda maupun yang tua—termasuk adiyuswa.
Keberhasilan pembangunan, kata dia, ditunjukkan dengan meningkatnya usia harapan hidup secara signifikan. Hal tersebut harus disikapi dengan baik agar bertambahnya jumlah lansia tidak menjadi beban negara, tetapi penopang pembangunan ke depan. Oleh karena itu, pemberdayaan lansia sebagai sumber daya manusia yang sehat dan produktif perlu dilakukan. “Perlu ada peningkatan layanan kesehatan dan penyediaan lapangan kerja yang sesuai dengan usia lansia,” kata Budi.
Saat ini Indonesia memiliki 9 persen jumlah adiyuswa. Jumlah ini akan terus bertambah berkat usia harapan hidup yang terus meningkat. Sementara itu, bangsa yang memiliki jumlah penduduk berusia lanjut yang mencapai 17 persen terancam bangkrut, seperti dicontohkan oleh Yunani, Portugal, dan Italia.
Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof. dr. Sjamsuhidayat, Sp.B-KBD. Ditambahkan oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Prof. Fasli Jalal, saat ini BKKBN telah mengembangkan program pembinaan keluarga yang memiliki lansia melalui Bina Keluarga Lansia (BKL).
Target BKKBN adalah menjadikan lansia tangguh, aktif, produktif, mandiri, sehat secara fisik, sosial, dan mental. Pengembangan program ini pada 2014 akan dilakukan di tiga provinsi, yaitu Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Bali. Selanjutnya, pada 2015 akan diperluas di provinsi-provinsi lainnya.
Terkait dengan kesehatan dan kebugaran untuk adiyuswa, Dr. Fatmah, S.K.M., M.Sc., pakar gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI mengatakan, adiyuswa perlu memperhatikan asupan gizi yang seimbang, praktik pola hidup yang bersih, aktivitas fisik, dan memantau berat badan secara rutin. Kebutuhan gizi adiyuswa, kata Fatmah, berbeda dengan orang dewasa muda. Kebutuhan adiyuswa akan energi, protein, dan lemak berkurang, tetapi kebutuhan vitamin dan mineralnya meningkat.
Ia juga mengingatkan agar adiyuswa membatasi konsumsi makanan berlemak, makanan manis, makanan yang mengandung tepung-tepungan, serta makanan peningkat asam urat. Adiyuswa, lanjutnya, perlu memperbanyak konsumsi buah dan sayuran segar, air putih yang cukup, batasi garam, dan pilih citarasa makanan yang netral. “Selain itu, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, lakukan olahraga minimal 3 hari per minggu,” pungkasnya. (http://uiupdate.ui.ac.id/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar